Feeds:
Tulisan
Komentar

Dalam rangka memperingati HARI “SUMPAH PEMUDA” 28 OKTOBER kali ini SikapSamin sengaja menyajikan secara copas-penuh situs: http://en.wikipedia.org/wiki/Youth_pledge

Pasti diantara para Kadang, Sedulur Sejati Tunggal-Sikep di NKRI, mungkin ada yang mempetanyakan kok pilih Wikipedia bahkan yangberbahasa Ingrris pula. Apakah sudah kurang menghargai Bahasa Indonesia, justru disaat Peringatan “SUMPAH PEMUDA”.

Saya sangat memaklumi hal tersebut, namun perkenankan dalam sertba keterbatasan berbagai segi, saya menjelaskan tentang pilihan ini atas pertimbangan2 spt. berikut:

  1. Dalam Situs-Web ini, teks Sumpah-Pemuda secara utuh dimuat dalam 3 versi, yaitu versi BAHASA INDONESIA EJAAN LAMA, versi BAHASA INDONESIA EJAAN BARU, dan terakhir versi BAHASA INGRRIS;
  2. Wikipedia sebagai situs-web encyclopedia, saya yakin telah cukup dikenal di Dunia-International;
  3. Diharapkan, semoga Gema “SUMPAH PEMUDA” sebagai Benih Kesadaran Nasionalisme NKRI, dapat tersebar luas, menyeruak di tengah badai globalisasi;
  4. Semoga sajian sederhana ini mampu menyegarkan dan menumbuhkan kembali Kesadaran Rasa Nasionalisme-NKRI, ditengah gempuran ‘Pembalakan Multi_Dimensi’, ditengah gempuran ‘Terorisme Multi-Dimensi’;
  5. Diharapkan, Nasionalisme-NKRI dapat ‘HADIR’ menjadi bagian tak terpisahkan dari Mosaik-Internasionalisme;

Akhir kata, kepada seluruh Kadang, Sedulur Sihkatresnan para Winaskita, sudi memberikan koreksi, pelurusan serta pencerahan atas sajian sederhana ini. Matur nuwun. Terima kasih juga kepada Wikipedia yang salah satu sajiannya saya copas-penuh.

Tak lupa dari kedalaman lubuk hati, mohon maaf apabilka dalam sajian ini mengandung hal2 yang kurang berkenan.-

 

From Wikipedia, the free encyclopedia

This article is part of the
History of Indonesia series
History of Indonesia.png
See also:
Timeline of Indonesian History
Prehistory
Early kingdoms
Tarumanagara (358-723)
Srivijaya (7th to 13th centuries)
Sailendra (8th to 9th centuries)
Sunda Kingdom (669-1579)
Mataram Kingdom (752–1045)
Kediri (1045–1221)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
The rise of Muslim states
The spread of Islam (1200–1600)
Malacca Sultanate (1400–1511)
Sultanate of Demak (1475–1518)
Aceh Sultanate (1496–1903)
Sultanate of Banten (1526–1813)
Mataram Sultanate (1500s to 1700s)
European colonialism
The Portuguese (1512–1850)
Dutch East India Co. (1602–1800)
Dutch East Indies (1800–1942)
The emergence of Indonesia
National awakening (1899–1942)
Japanese occupation (1942–1945)
Declaration of independence (1945)
National revolution (1945–1950)
Independent Indonesia
Liberal democracy (1950–1957)
“Guided Democracy” (1957–1965)
Start of the “New Order” (1965–1966)
The “New Order” (1966–1998)
Reformasi” era (1998–present)
Edit this template

The Youth Pledge (IndonesianSumpah Pemuda), was a declaration made on 28 October 1928 by young Indonesian nationalists at a conference in the then-Dutch East Indies. They proclaimed three ideals, one motherland, one nation and one language[1].

Contents

[hide]

[edit]Background

The first Indonesian youth congress was held in Batavia, capital of the then-Dutch East Indies in 1926, but produced no formal decisions but did promote the idea of a united Indonesia. In October 1928, the second Indonesian youth congress was held at three different locations. In the first session, the hope was expressed that the congress would inspire the feeling of unity. The second session saw discussions about educational issues. In the third and final session, held at Jalan Kramat Raya No, 126, on October 28 participants heard the future Indonesian national anthem Indonesia Raya by Wage Rudolf Supratman. The congress closed with a reading of the youth pledge[2][3].

[edit]The pledge

In Indonesian, with the original spelling, the pledge reads[2]:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

In Indonesian, with the new spelling (Ejaan Yang Disempurnakan), the pledge reads[2]:

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

In English:

Firstly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one motherland, Indonesia.
Secondly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one nation, the nation of Indonesia.
Thirdly
We the sons and daughters of Indonesia, respect the language of unity, Indonesian.

[edit]References

[edit]Notes

  1. ^ Ricklefs (1982) p177
  2. a b c http://www.museumsumpahpemuda.go.id/Sumpah_pemuda.htm Youth Pledge Museum website (Indonesian)
  3. ^ Hudaya Latuconsina & Dedi Rafidi (1996) p123

 

Stub icon This Indonesia-related article is a stub. You can help Wikipedia byexpanding it.

TRIWIKRAMA BUDAYA

KRITIK MEMBANGUN UNTUK RAJA JAWA
Pernyataan bersama Mas Kumitir & Wong Alus

 

Bagaimana memajukan negeri kita agar bisa setara dengan negeri-negeri lainnya seperti China dan Jepang yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia? Salah satu hal yang kami sepakati adalah diperlukan sebuah revolusi budaya di negeri kita. Kenapa harus budaya? Sebab intisari budaya adalah pola pikir, perilaku, kebiasaan yang sudah berakar kuat dalam kurun waktu yang panjang. Pola pikir para anak bangsa yang cenderung tidak kreatif, tidak inovatif dan secara salah menafsirkan harapan hidup pada akhirnya melahirkan generasi yang tidak memahami sangkan paraning dumadi.

Inilah masa sekarang. Generasi yang dimanja oleh situasi yang memang membius mereka dalam kemudahan dan tidak mengenal proses perjuangan untuk merengkuh kebebasan dan kemerdekaan. Pengembangan diri bersifat pragmatis dan materialistis yang hanya ditujukan untuk meraih prestasi dan melupakan pengembangan diri yang bertumpu pada budaya keindonesiaan kita.

Siapa yang harusnya memulai untuk mengadakan gerakan REVOLUSI BUDAYA? Menurut hemat kami, yang harus mengawali adalah meraka yang selama ini hidup di sentra, kantong, dan EPISENTRUM BUDAYA. Siapa lagi kalau bukan PARA RAJA dan PARA KERABAT DAN SENTANA DALEM. Raja tidak hanya simbol, merekalah yang menggenggam RUH BUDAYA karena dari sala sesungguhnya dimulainya BUDAYA.

PARA RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) kini tidak mampu lagi menempatkan dirinya dalam kancah perubahan budaya di masyarakat modern.

Mereka terpaku dan hanya jadi penonton perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mereka tidak mampu menjadi PENGGERAK BUDAYA yang konon sangat adiluhung. Bagaimana bisa menjadi penggerak budaya bila kita semua hidup semakin HEDONISTIK DAN FEODALISTIK?

Para raja itu masih hidup tapi tidak memiliki semangat untuk menjadikan masyarakat yang berbudaya Jawa tersebut maju, berilmu tinggi dan mampu mengolah rasa/dzikir dan pikir mereka sehingga menjadikan budaya sebagai basis pengembangan diri. Masyarakat yang kehilangan JATI DIRI BUDAYA tempat dimana dulu mereka dilahirkan akan tumbuh sebagai masyarakat yang anti peradaban dan cenderung hanya menyerap peradaban modern tanpa disaring.

Budaya membaca, menulis, mengolah diri menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan sesuai dengan jati diri bangsa kian lama kian hilang. Padahal di dalam khasanah budaya Jawa kita mengenal kearifan lokal bagaimana hidup di tengah perubahan yang cepat.

Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan berbagai kitab-kitab Jawa kuno baik berupa manuskrip, fotokopi, atau buku aslinya tapi itu lebih banyak kami dapat dari buku-buku yang dijual dipinggir jalan. Sementara buku0buku yang ada di Kraton yang kami yakini masih bertumpuk di gudang-gudang semakin dimakan kutu buku dan rayap.

Keraton -sejauh kami tahu- tidak memiliki niat untuk membuka akses buku-buku babon dari para pujangga Jawa. Para Raja, Para Kerabat dan Para Sentono Dalem tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk MBEBER KAWICAKSANAN dan selama ini lebih cenderung untuk HANYA MENYIMPAN DALAM GUDANG SAJA.

Inikah FUNGSI KRATON SEBAGAI SARANA UNTUK NGURI-URI KEBUDAYAAN JAWA YANG ADILUHUNG ITU? Bila Kraton dan juga para Raja menyadari fungsinya sebagai penggerak dan pelumas bergeraknya budaya, harusnya mereka membuka akses kepada masyarakat seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi termasuk juga mendapatkan KUNCI MASUK KE PERPUSTAKAAN KRATON.

Menyimpan buku-buku/naskah-naskah kuno dan menganggapnya sebagai JIMAT adalah sangat bertentangan dengan membangun budaya dan secara umummembangun bangsa. Sebab membangun bansa diperlukan gotong royong yang erat berdasarkan profesi dan kompetensinya masing-masing. Bila budayawan Jawa saja kesulitan untuk mendapatkan akses ke kraton, mana bisa mereka mengetahui nilai-nilai buday Jawa jaman dahulu bila tidak dari buku-buku kuno?

BUDAYA bukanlah hanya HASIL, sebagaimana candi-candi, rumah-rumah adat, kitab-kitab kuno, adat istiadat, benda-benda seni dan lainnya. Budaya adalah sebuah PROSES yang terjadi di masyarakat yang harus terus BERINOVASI dan memiliki ENERGI KREATIF yang besar untuk memajukan kemanusiaan yang lebih manusiawi, yang memiliki rasa kebertuhanan yang lanjut dan hingga sampai kesimpulan penghayatan hidup.

Untuk mengetahui HAKIKAT BUDAYA, kita memerlukan sebuah proses MEMBACA DAN MENULIS. Baik membaca KITAB YANG TERTULIS, maupun membaca dalam arti yang luas yaitu MEMBACA KITAB TIDAK TERTULIS, yaitu ALAM SEMESTA beserta ciptaanNya. Sementara MENULIS berarti mengadakan PERENUNGAN dan MENGOLAH DENGAN AKAL PIKIR hingga kemudian berlanjut ke tahap MELAKUKAN DALAM PERILAKUNYA SENDIRI-SENDIRI.

Sebagai bagian dari semangat NGANGSU KAWRUH itulah maka, sudah pada tempatnya bila PARA RAJA DI RAJA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAM, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk MEMPELAJARI kitab-kitab kuno yang hingga saat ini masih tersimpan erat dalam gudang-gudang mereka.

Demikian uneg-uneg dari kami, semoga para RAJA JAWA menyadari KEMBALI PERANNYA SEBAGAI PEMIMPIN KHALIFAH DI MUKA BUMI, PENYANGGA BUMI, PENATA AGAMA, Mohon maaf bila tidak berkenan dan MONGGO KEPADA REKAN-REKAN YANG SEGARIS PERJUANGAN UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI DALAM GERAKAN REVOLUSI BUDAYA JAWA INI.

 

Hormat kami,

Ttd

Mas Kumitir alangalangkumitir.wordpress.com

Wong Alus wongalus.wordpress.com